Selasa, 09 Mei 2017

Untuk melaksanakan managemen BOS agar sesuai dengan petunjuk dan teknis yang berlaku, maka saya akan melampirkan JUKNIS BOS 2017 .Untuk Juknis BOS 2017 dapat didownload di sini

Kamis, 23 Februari 2017

Syarat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk kenaikan pangkat Guru


Syarat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk kenaikan pangkat Guru





Bukan  rahasia umum lagi apabila seorang guru pada jenjang golongan akan berhenti pada tingkat golongan 4a atau Pembina. Banyak alasan yang menyebabkan   berhentinya karier golongan seorang guru di golongan 4a.Mungkin kita merasa kecewa juga ketika mengajukan PAK, PTK kita dinilai 0. PTK yang telah disusun dengan susah payah dalam waktu yang cukup lama tiba-tiba tidak diakui. Padahal, kita sudah berusaha mengikuti beberapa teori tentang teknik membuat PTK yang baik, penggunaan bahasa ilmiah, dan sistematika yang telah ditentukan. Akan tetapi, mengapa PTK kita bisa ditolak oleh tim penilai?



Menurut berbagai sumber beberapa syarat sebuah PTK  bisa dinilai ada 4 faktor utama, yaitu sebagai berikut:

  1. Judul PTK harus bercirikan PTK 

Judul PTK Pada umumnya diawali dengan kata Penggunaaan atau kata Peningkatan, atau kelompok kata Upaya Meningkatkan. Selain itu, judul PTK harus memuat empath al, yaitu penyakit (KD apa yang tidak tuntas), obat (tindakan apa yang akan digunakan), pasien (siswa kelas berapa) dan rumah sakit (SD/SMP/SMA mana)
Contoh:

a.       Peningkatan kemampuan memahami jenis bangun dengan menggunakan media PARET siswa kelas V B SD Negeri Petamanan Pasuruan



b.      Penggunaan Metode Tadarus untuk meningkatkan kemampuan memahami jenis-jenis paragraf siswa kelas X SMAN 2 Surabaya





  1. Dilakukan di kelas guru peneliti mengajar

Dikatakan sebagai sebuah PTK berarti penelitian dilakukan di kelas tempat guru tersebut mengajar. Dengan demikian, sebenarnya menulis PTK itu tidaklah terlalu sulit karena yang ditulis adalah pengalaman yang dilakukan saat mengajar. Dengan demikian, apabila ada guru kelas 2 melakukan penelitian di kelas 3, sudah dapat dipastikan PTK akan ditolak, begitu pula apabila ada guru mengajar di SD X melakukan penelitian di SD Y, PTK juga pasti ditolak. 

  1. Memiliki prosedur yang benar
    Sebuah PTK selalu ditandai dengan adanya siklus, bisa dua siklus, bisa juga tiga siklus. Tidak pernah ada sebuah PTK yang hanya ada satu siklus karena belum terlihat adanya peningkatannya. Kalau dibandingkan dengan prasiklus, bukanlah PTK, tetapi penelitian eksperimen. Hasil prasiklus sebagai kelompok kontrol, sedangkan hasil siklus satu merupakan kelompok eksperimen.Begitu juga tidak pernah ada PTK yang memiliki lebih dari tiga siklus karena kalau itu terjadi berarti tindakannya perlu diganti atau obatnya tidak manjur. Mengenai berapa pertemuan setiap siklusnya? Memang ada yang mengatakan bahwa setiap siklus diusahakan memiliki lebih dari satu pertemuan karena kalau hanya satu pertemuan dianggap program remidi, bukan PTK. 



  1. Lampirannya lengkap

Lampiran dalam PTK sangat dibutuhkan untuk membuktikan keabsahan hasil penelitian. Lampiran akan meyakinkan TIM penilai apakah PTK tersebut benar-benar dilakukan atau sekadar laporan palsu. Hal-hal yang perlu dilampirkan antara lain surat izin penelitian, RPP masing-masing siklus, instrumen yang digunakan (lembar observasi dan tes), contoh hasil kerja siswa, dan foto kegiatan. 





  1. Telah diseminarkan 

PTK yang akan diajukan untuk kenaikan pangkat harus diseminarkan di depan minimal 15 guru dan minimal 3 sekolah yang berbeda. Dalam satu kegiatan seminar, maksimal tiga guru penyaji yang berbeda. Artinya, satu guru hanya boleh satu penyajian. Selanjutnya, bukti seminar yang perlu dilampirkan dalam PAK meliputi surat undangan, daftar hadir yang memuat nama, asal sekolah dan TTD, laporan hasil seminar serta foto kegiatan seminar.

Demikian sedikit ulasan tentang syarat pengajuan PTK untuk kenaikan pangkat guru.Semoga ulasan ini bermanfaat untuk kita semua.

Senin, 22 Februari 2016

 PAUD YANG DIHARAPKAN MENURUT CEU POPONG ?


Di Jepang, peserta didik pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), setiap hari diajarkan lagu kebangsaan Jepang Kimigayo. Kalau di Indonesia, kata anggota Komisi Pendidikan DPR, Popong Otje Djundjunan, di PAUD-nya diajarkan nyanyi Potong Bebek Angsa yang liriknya  antara lain berbunyi "nona minta dansa". 

"Jadi jangan salahkan anak-anak kalau mereka tidak bisa menyanyikan Indonesia Raya. Sebab mereka memang tidak diajarkan semasa pendidikan usia dini," kata Popong Otje Djundjunan, dalam peluncuran buku"Pola Asuh Anak: Melejitkan Potensi dan Prestasi Sejak Usia Dini", Karya Meity H Idris, di ruang Perpustakaan MPR RI, Senayan, Jakarta.
Menurut Ceu Popong - demikian sapaan akrab nenek berusia 76 tahun ini- selain diajarkan lagu Kimigayo, PAUD di Jepang tidak mempunyai ruangan belajar. "Suasana PAUD persis seperti di rumah. Anak-anak diajari bagaimana tidur, mandi dan bergaul secara baik. Tidak pernah diajari membaca atau menulis," ungkapnya.
Fakta yang lebih memperihatinkan lanjutnya, PAUD di Indonesia sudah jutaan jumlahnya. "Tapi tenaga pengajarnya berasal dari remaja-remaja yang tidak lulus SLTA. Menjadi rusak anak-anak usia dini itu," tegas Ceu Popong, yang punya menantu orang Jepang itu.
Tapi setelah membaca buku "Pola Asuh Anak: Melejitkan Potensi dan Prestasi Sejak Usia Dini" ini, Ceu Popong menyatakan angkat topi. "Walau Ceu Popong tidak pakai topi, setelah membaca buku ini, Ceu Popong angkat topi, sebab isinya patut dibaca oleh guru PAUD dan orang tua," pungkasnya.

Jumat, 28 Agustus 2015

Perlunya Rasa Humor Guru di Kelas

Rasa humor (sense of humor) dapat diartikan sebagai kecenderungan respons kognitif individu untuk membangkitkan tertawa, senyuman, dan kegembiraan. Para ahli medis dan psikologi sepakat bahwa rasa humor merupakan aset berharga dan amat penting untuk kesehatan dan kebahagiaan hidup, yang bisa dimiliki oleh setiap individu normal.
Secara medis, rasa humor dapat membantu mengatasi rasa sakit, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan bahkan dapat memperpanjang usia. Secara sosio-psikologis, rasa humor dapat membantu mengurangi stress dan kecemasan, mempermudah interaksi sosial, dan dapat membantu pengambilan keputusan yang lebih baik di tengah-tengah situasi yang sulit. Mitchell Ditkoff menyebutkan bahwa humor merupakan salah satu ciri orang inovatif. Sementara, James C. Coleman mengatakan bahwa membangkitkan rasa humor merupakan salah satu cara untuk memelihara emosi yang konstruktif.
Bagi guru, memiliki rasa humor merupakan modal personal yang sangat berharga sekaligus dapat menjadi daya pikat tersendiri di mata siswanya. Rasa humor guru sangat berguna dalam upaya menciptakan iklim kelas dan pengembangan proses pembelajaran yang lebih sehat dan menyenangkan. Bahkan, Melissa Kelly menyebutkan bahwa rasa humor merupakan salah satu kunci untuk menjadi guru yang sukses. Menurut Melissa, rasa humor guru dapat meredakan ketegangan suasana dan dapat mencegah timbulnya perilaku disruptif siswa di kelas, serta bisa dijadikan sebagai cara untuk menarik perhatian siswa di kelas. Dan yang paling penting, dengan rasa humor yang dimilikinya, seorang guru akan menunjukkan bahwa dia adalah sosok orang yang memiliki kepribadian dan mental yang sehat, dapat menikmati hidup, serta mampu menjalani kehidupan kariernya secara wajar tanpa stress
Meski di bangku kuliah tidak pernah diberikan mata kuliah yang secara khusus mengkaji tentang pengembangan rasa humor di kelas, tetapi disini tampak terang bahwa guru perlu berlatih dan membiasakan diri untuk memiliki kemampuan mengembangkan rasa humor di kelas.
Dalam praktiknya, mengembangkan rasa humor di kelas tidak bisa dilakukan secara serampangan tetapi memerlukan cara dan kiat tersendiri. Berikut ini beberapa ide yang sering saya praktikkan di kelas.
  1. Hubungkan dengan materi yang sedang diajarkan. Mungkin ini ide yang paling sulit untuk diterapkan karena tidak semua materi yang kita ajarkan kepada siswa bisa disisipi humor,– khususnya bagi Anda yang kurang terbiasa berartikulasi. Tetapi jika Anda mampu melakukannya, maka humor yang dikoneksikan dengan materi pelajaran bisa diyakini sebagai bentuk reinforcement yang dapat membantu siswa untuk mencerna dan menyimpan informasi secara lebih baik dalam sistem memori jangka panjangnya.
  2. Gunakan video atau gambar yang relevan. Untuk ide yang kedua ini, mungkin tidak sesulit ide yang pertama. Cukup dengan menggunakan jasa Eyang Google atau mesin pencari lainnya, Anda bisa mencari dan menemukan aneka video dan gambar yang dibutuhkan untuk kepentingan pengembangan rasa humor di kelas. Konten video atau gambar tidak harus persis identik dengan materi yang akan diajarkan, yang penting bisa dicari kaitannya (dihubung-hubungkan). Selanjutnya, sajikanlah video atau gambar tersebut di kelas secara atraktif. Usahakan setelah usai penayangan, mintalah kepada siswa untuk merefleksi tayangan tersebut, dikaitkan dengan materi yang sedang diajarkan.
  3. Lakukan pada waktu dan situasi yang tepat. Mengembangkan rasa humor tidak harus dilakukan sepanjang waktu pelajaran, karena Anda tidak sedang melawak di kelas. Sajikan rasa humor Anda ketika siswa Anda membutuhkannya. Misalnya, ketika siswa mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan atau ribut di kelas. Usahakan jangan mengulang topik humor yang sama pada kelas yang sama, Jika Anda mengulanginya, bukan kegembiraan siswa yang akan didapat tetapi malah mungkin menjadi sesuatu yang membosankan dan menyebalkan.
  4. Sampaikan secara etis dan tidak melecehkan siswa. Interaksi antara guru dengan siswa adalah interaksi pendidikan. Oleh karena itu, ketika Anda hendak menyampaikan humor di kelas harus tetap dalam bingkai pendidikan, baik dari segi konten maupun cara penyampaiannya. Hindari humor jorok dan berbau SARA, serta hindari bentuk humor yang dapat melukai harga diri seseorang, khususnya siswa, sekalipun humor itu sangat lucu dan dapat mengundang sebagian besar orang untuk tertawa dan bergembira.
  5. Mudah dipahami dan sesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa. Seorang guru berusaha mengembangkan humor tertentu di kelas, yang menurut dia humor itu sangat lucu, tetapi ternyata reaksi dari siswa malah datar-datar saja. Sangat mungkin hal ini disebabkan oleh konten humor yang terlalu tinggi sehingga sulit dicerna oleh pikiran siswa. Oleh karena itu, pilihlah secara jeli konten humor yang sesuai dengan daya tangkap siswa dan tingkat perkembangan siswa.
Begitulah ide dan pengalaman sederhana saya tentang bagaimana mengembangkan rasa humor di kelas. Tentu masih banyak ide dan pengalaman cerdas lainnya dari Anda, dan mari kita diskusikan di ruang komentar yang telah disediakan untuk memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana mengembangkan rasa humor di kelas dan menciptakan kelas yang lebih menyenangkan.
Selamat berhumor ria dan mari kita belajarkan siswa-siswa kita dengan penuh suka cita agar mereka menjadi orang-orang yang berbahagia!

Senin, 13 April 2015

PENGERTIAN SEKOLAH DASAR



Salah satu pengertian pendidikan yang sangat umum dikemukakan oleh Driyarkara (1980) yang menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkatan manusia muda ke taraf insani harus diwujudkan di dalam seluruh proses atau upaya pendidikan. Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat 1 dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang”.


Sekolah dasar (disingkat SD) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Lulusan sekolah dasar dapat melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (atau sederajat).
Pelajar sekolah dasar umumnya berusia 7-12 tahun. Di Indonesia, setiap warga negara berusia 7-15 tahun tahun wajib mengikuti pendidikan dasar, yakni sekolah dasar (atau sederajat) 6 tahun dan sekolah menengah pertama (atau sederajat) 3 tahun.

Sekolah dasar diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta. Sejak diberlakukannya otonomi daerah pada tahun 2001, pengelolaan sekolah dasar negeri (SDN) di Indonesia yang sebelumnya berada di bawah Kementerian Pendidikan Nasional, kini menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Sedangkan Kementerian Pendidikan Nasional hanya berperan sebagai regulator dalam bidang standar nasional pendidikan. Secara struktural, sekolah dasar negeri merupakan unit pelaksana teknis dinas pendidikan kabupaten/kota.

Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Nomor 20 Tahun 2001) Pasal 17 mendefinisikan pendidikan dasar sebagai berikut:
(1) Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
(2) Pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMP) dan madrasah tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.Sekolah dasar

Senin, 07 Juli 2014

Pengertian Kurikulum 2013

Dari sisi kebahasaan, seperti yang dikutip oleh Binti Ma’unah dari kamus Webster tahun 1812, kurikulum berarti (1) a race course, a place for running, a chariot, (2) a course, in general, applied particullary to the course of study in university (Ma’unah, 2005: 1). Namun menurut S. Nasution istilah kurikulum baru muncul dalam kamus 1856, dan itu pun penggunaannya baru di dalam bidang olah raga. Kemudian istilah kurikulum digunakan di dalam dunia
pendidikan dan ditulis dalam kamus Webster tahun 1955 dan diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran atau kuliah di sekolah atau perguruan tinggi yang harus ditempuh untuk mencapai suatu ijazah atau tingkat, juga keseluruhan pelajaran yang disajikan oleh suatu lembaga pendidikan (Nasution, 2005: 1).
Banyak terjadi perdebatan terkait pengertian kurikulum. Dalam pengertian di atas kurikulum lebih diartikan sebagai terkait mata pelajaran dikelas saja. Namun Binti Ma’unah dengan merujuk pada pendapat J.G. Taylor dan William H. Alexander berpendapat bahwa kurikulum adalah semua pengalaman belajar atau pengalaman pendidikan bagi siswa (Ma’unah, 2005: 2).
Tanpa mengesampingkan perdebatan-perdebatan tersebut, pemerintah RI dalam UUSPN menyebutkan bahwa:
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan isi pelajaran, bahan kajian, dan cara penyampaian serta penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman  penyelenggaraan kegiatan belajar-mengajar.
1.    Landasan Kurikulum
Bila kurikulum dikaitkan denga hal-hal yang praktis-aplikatif maka akan lebih cenderung berkenaan dengan usaha-usaha yang dilakukan oleh perencana kurikulum dalam menyusun bidang matapelajaran sesuai tingkat pendidikan. Oleh karena setiap jenjang pendidikan selalu memiliki perbedaan di dalam banyak hal maka dalam penyusunan kurikulum harus berlandaskan pada  landasan yang jelas. Binti Ma’unah menyebutkan 5 landasan dalam hal ini, yaitu: 
  • landasan filosofis
  • landasan sosial budaya
  • landasan  psikologis
  • hakikat pengetahuan (Ma’unah, 2005: 5), 
  • landasan asas organisatoris (Nasution, 1990: 21)
2.    Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Dua model kurikulum tersebut adalah kurikulum yang digunakan di dalam dunia pendidikan Indonesia. Sebenarnya sebelum KBK digunakan sudah ada kurikulum 1994 yang pernah diterapkan di Indonesia. Namun di dalam makalah ini hanya akan sedikit dibahas tentang KBK dan KTSP.
Seperti ditulis oleh E. Mulyasa, KBK adalah suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar perfomansi tertentu (Mulyasa, 2003: 39). Sedangkan KTSP, menurut SNP pasal 1 ayat 15 seperti dikutip E. Mulyasa adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan (Mulyasa, 2006: 19).
Untuk mengenal KBK dan KTSP kita dapat melihat karakteristik yang dimiliki oleh keduanya. KBK semisal, karakteristiknya adalah 
  • sistem belajar dengan modul,
  • menggunakan keseluruhan sumber belajar,
  • pengalaman lapangan,
  • strategi individual personal,
  • kemudahan belajar,
  • belajar tuntas (Mulyasa, 2003: 43).
Sedangkan karakteristik KTSP adalah
  • pemberian otonomi luas kepada satuan pendidikan,
  • partisipasi masyarakat dan orang tua,
  • kepemimpinan yang demokratis dan profesional, serta
  • tim kerja yang kompak dan transparan (Mulyasa, 2006: 29).
demikianlah penjelasan dari kurikulum kbk dan ktsp, untuk kurikulum 2013 akan segera dipublish

pelajaran-kurikulum-2013

 




Senin, 03 Februari 2014

Selusin Karakteristik Atasan yang Menyebalkan



Jeff Fermin (2014) dalam sebuah tulisannya yang dipublikasikan di Huffington Post mengemukakan tentang 12  Karakteristik Atasan yang Menyebalkan, yang disebutnya juga sebagai karakteristik yang mengerikan. Berikut ini penjelasan singkat dari keduabelas karakteristik tersebut:

1. Mengontrol
Atasan yang menyebalkan adalah dia yang tidak faham bagaimana memotivasi orang dan membuat orang-orang di sekitarnya menjadi lebih baik. Dia lebih banyak mengontrol karyawannya untuk selalu sibuk bekerja dan terus bekerja, tanpa dibarengi dengan penjelasan mengapa mereka harus bekerja.
2. Tidak Tegas
Atasan yang menyebalkan adalah dia yang memiliki karakteristik plintat-plintut, tidak tegas dengan keinginannya dalam menuntaskan suatu pekerjaan tertentu karena dia tidak mampu menganalisis situasi dan mengambil keputusan secara cermat, serta tidak dapat membaca kemungkinan-kemungkinan  hasil akhirnya.
3. Keras Kepala
Atasan yang menyebalkan adalah dia yang selalu menganggap dirinya paling benar, tidak mau mendengar pendapat orang lain. Dia tidak menyadari bahwa setiap orang  di kantor  pada dasarnya memiliki potensi untuk turut serta memajukan perusahaan atau organisasi .
4. Menolak Perubahan
Atasan yang menyebalkan adalah dia yang memilih untuk stagnan, tidak memiliki keberanian untuk melakukan perubahan proses tertentu di tempat kerjanya. Dia tidak mampu menawarkan konsep-konsep baru yang memungkinkan karyawannya untuk bekerja lebih baik dan dapat meningkatkan kepuasan para pelanggannya.
5. “Manajemen Mikro”
Atasan yang menyebalkan adalah dia yang terus-menerus memperhatikan pada hal-hal sepele, yang dapat merusak motivasi dan kualitas pekerjaan karyawannya. Dia kurang memberikan otonomi dan kebebasan kepada karyawannya untuk menyelesaikan tugasnya secara lebih baik.
6. Memimpin dengan Menebarkan Ketakutan
Atasan yang menyebalkan adalah dia  yang menggunakan taktik manajemen kuno yaitu dengan menebarkan ancaman dan ketakutan terhadap karyawannya manakala tidak sanggup menyelesaikan tugas-tugas besar, misalnya pemecatan. Kita sering menyaksikan film-film tentang seorang atasan memberikan ancaman terhadap anak buahnya dan hal itu biasanya terjadi pada organisasi penjahat atau mafia. Prototipe kerja modern jauh lebih liberal dan manusiawi, tidak menggunakan rasa takut sebagai bentuk manajemen serta dapat menempatkan dan menghargai karyawan sebagai manusia utuh.
7. Tidak Memiliki Visi
Atasan yang menyebalkan adalah dia yang tidak mampu melihat perjalanan organisasi untuk jangka panjang dan hanya fokus pada perbaikan jangka pendek, baik yang berkaitan dengan produk /jasa, lingkungan kerja, atau bahkan konflik.
8. Favoritisme
Atasan yang menyebalkan adalah dia yang menunjukkan sikap nepotisme di tempat kerja, terutama ketika menempatkan  seseorang dalam posisi besar.  Dia  tidak mampu memisahkan antara persaudaraan/persahabatan pribadi dengan  bisnis.
9. Arogan
Mirip dengan keras kepala, atasan yang menyebalkan adalah dia seorang yang sombong, seolah-olah menjadi orang yang paling hebat di dunia. Dia tidak menyadari bahwa dalam organisasi, setiap orang harus bekerja sama sebagai sebuah tim.
10. Marah
Karakteristik atasan yang menyebalkan berikutnya adalah dia yang berfikir bahwa karena dia telah memperoleh posisi kekuasaan, lantas dia bisa mencaci-maki, meremehkan, dan  memperlakukan orang lain secara semena-mena ketika dia melakukan suatu kesalahan.
11. Melemparkan Kesalahan
Atasan yang menyebalkan adalah dia yang  selalu menyalahkan dan meletakkan kesalahan pada karyawan apabila terjadi kesalahan dalam organisasi. Seorang pemimpin sejati mampu mengoreksi setiap kesalahannya sendiri, dan bahkan lebih mengesankan, dia seringkali berusaha mengambil alih tanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukan karyawannya, karena dia sadar bahwa dia belum mampu memperbaikinya.
12. Didorong oleh Emosi
Terakhir, karakteristik atasan yang menyebalkan adalah dia yang setiap tindakannya didorong oleh emosi, sering membuat  keputusan hanya berdasarkan pada keyakinan atau firasat, dengan tanpa argumentasi yang jelas. Pemimpin besar biasanya dapat membuat keputusan dengan menggunakan data untuk mendukung  penalarannya.